Sabtu, 19 Februari 2011

Aku belum segagah ibu itu

Setiap menjelang Hari Raya Idhul Adha, saya selalu teringat pada cerita nyata yang disampaikan adik ipar saya pada 4 tahun yang lalu.Ketika itu adik ipar saya ditunjuk menjadi salah satu panitia Qurban di kantornya (sebuah perusahaan IT) di Jakarta. Singkat cerita, selepas pulang kerja adik ipar saya bersama rekannya pergi untuk membeli hewan Qurban di salah satu penjual hewan Qurban untuk memenuhi amanah dari para karyawan di kantornya yang menitipkan uang kepada panitia untuk dibelikan hewan Qurban.
Sesampainya di tempat penjual hewan Qurban tersebut, tampak sekali si penjual hewan Qurban sangat sibuk melayani para pembeli. Para pembeli pun sibuk memilih hewan-hewan Qurban yang terbaik untuk memenuhi seruan ber-Qurban di hari raya nanti. Adik ipar saya pun terpaksa harus menunggu cukup lama sambil melihat-lihat hewan-hewan Qurban yang ada di lokasi.
Diantara para pembeli yang sedang antri, tampak seorang ibu tua yang memanggul bakul bambu berisi perabot rumah tangga tradisional seperti sikat ijuk, sapu lidi, kemoceng dan sebagainya. Dengan sabar ibu tua tersebut berdiri melihat-lihat para pembeli yang sibuk memilih hewan Qurban dan menawar harga.
Setelah sekian lama para pembeli pun mulai sepi, tapi ibu tua masih sabar berdiri seakan menikmati pemandangan kesibukan penjual hewan Qurban dengan para pembelinya, dan menunggu sampai pembeli terakhir.Sampailah waktunya si penjual melayani adik ipar saya, dan setelah memilih hewan-hewan Qurban dan menentukan harga, maka si penjual hewan Qurban menyiapkan kwitansi pembelian untuk adik ipar saya.
Sambil menunggu si penjual menyiapkan kwitansi, adik ipar saya iseng-iseng menanyakan apa keperluan si ibu tua sehingga rela berlama-lama menunggu di sana. Dalam hati, adik ipar saya menduga-duga bahwa mungkin si ibu tua itu ingin meminta shodaqoh dari penjual hewan Qurban yang sedang laris manis itu.Dan alangkah terkejutnya, ketika adik ipar saya mendengar jawaban dari si ibu tua bahwa ia juga ingin membeli hewan Qurban untuk dirinya sendiri. “Alhamdulillah nak, saya sudah beberapa tahun terakhir ini bisa rutin membeli kambing Qurban”, begitu ibu tua itu menambahkan,
Didorong rasa ingin tahu, adik ipar saya bertanya bagaimana caranya si ibu tua tersebut bisa mampu membeli kambing Qurban, mengingat pekerjaanya hanya penjual perabot rumah tangga tradisional.Si ibu tua dengan lugasnya menjelaskan bahwa setiap hari ia menyisihkan seribu perak dari keuntungannya berjualan perabot. “Kalau lagi laku banyak, saya menyisihkan dua ribu perak. Jaga-jaga kalo saya sakit, saya nggak bisa jualan dan nggak bisa nabung buat beli kambing Qurban”.
“Kalau sehari seribu atau dua ribu, setahun bisa terkumpul uang Rp 350.000,- s/d Rp 400.000,- jadi cukuplah buat beli kambing Qurban yang murah”, begitu si ibu tua menjelaskan.
Begitulah adik ipar saya menuntaskan ceritanya. DEG! saya cuma bisa terdiam mendengar cerita itu, bila si ibu tua itu dengan telaten menyisihkan keuntungannya berjualan setiap harinya demi keinginan besar untuk bisa ber-Qurban setiap tahunnya, itu berarti tidak ada alasan bagi saya untuk tidak ber-Qurban setiap tahunnya. Saya tidak perlu mengumpulkan uang bila ingin membeli kambing Qurban, dan bila pun harus mengumpulkan uang untuk membeli kambing Qurban, saya hanya perlu berapa kali saja menahan keinginan saya untuk makan fast-food atau nonton di bioskop atau beli celana jeans baru atau beli accessories kendaraan.
Bila si ibu tua itu harus menyisihkan seribu – dua ribu perak dari hasil keringatnya memanggul bakul perabot keliling kampung yang setiap hari paling-paling cuma untung 10 ribu – 20 ribu, maka apakah saya sudah cukup berani dan lapang hati untuk menyisihkan 10% dari gaji setiap bulan untuk meraih cinta Allah.
Jujur saya belum segagah ibu tua itu …
-----------------------------------------------

Tidak ada komentar:

Posting Komentar