Rabu, 15 Juni 2011

Anestesi Pediatrik pada Bedah Urologi


Operasi traktus urinarius pada anak-anak yang ditangani oleh dokter anestesi pediatric jumlahnya sangat banyak. Prosedur yang dilakukan mulai dari operatif operasi minor seperti sistoskopi atau sirkumsisi, sampai dengan operasi besar seperti operasi pada anak-anak yang menderita gagal ginjal.

Prosedur minor
  • Sistoskopi
  • Reseksi katup uretra posterior
  • Sirkumsisi
  • Insersi kateter suprapubik
  • Rekonstruksi hipospadia
  • Orchipeksi
Pada umumnya, anak – anak membutuhkan evaluasi preoperative yang rutin dan / atau membutuhkan krim anestesi local untuk induksi IV yang diberikan sesuai indikasi.

Sistoskopi
Indikasi dari sistoskopi sangat bervariasi mulai dari hematuria minor ata kesulitan mengevaluasi aliran urin setelah rekonstruksi atau bedah tumor.
Anestesi
  • Respirasi spontan dengan menggunakan LMA atau face mask.
  • Sistoskopi biasanya akan mengakibatkan perubahan fisiologis tubuh berupa hiperventilasi dan takikardi.
  • Penggunaan morfin 20-30 mcg/KgBB IV berguna untuk analgesia nyeri selama intraoperatif dan postoperative. Morfin harus diberikan beberapa menit sebelum prosedur operasi dimulai karena mempunyai onset yang lambat. Sebagai alternative, codein fosfat dapat juga digunakan.
  • Antibiotik profilaksis dibutuhkan untuk mencegah bakterimia gram negatif.

Resectiom of posterior urethral valves (PUV)
Lapisan jaringan abnormal yang terdapat pada uretra neonates laki-laki biasanya akan membendung aliran urin. Sebagai akibatnya, aliran balik dari urin dapat menyebabkan terjadinya hidronefrosis dan kerusakan ginjal. PUV mungkin dapat didiagnosis pada saat periode antenatal akan tetapi umumnya baru ditemukan setelah neonates atau balita. Diagnosis  dan rekonstruksi sejak awal dapat mempertahankan fungsi ginjal tetap baik.
Anestesia
  • Prosedur sistoskopi merupakan reseksi PUV
  • Diperlukan preoperaif fungsi ginjal
  • Pada bayi dengan BB <5kg dipilih endotrakheal, sedangka untuk bayi yang lebih besar dipilih LMA dan ventilasi spontan
  • Anestesi caudal diperlukan untuk terapi antinyeri
  • Perlu diberikan antibiotic
  • Hati-hati manajemen pemberian cairan postoperative.

Rekonstruksi hipospadia
Hipospadia terjadi apabila OUE terletak di proximal urethra. Hipospadia tidak berhubungan dengan suatu penyakit sistemik. Operasi yang dilakukan adalah untuk rekonstruksi dari defek. Jaringan tambahan yang digunakan untuk rekonstruksi biasanya diambil dari mukosa buccal.
Anestesi
  • Biasanya menggunakan LMA dan ventilasi spontan
  • Anestesi caudal digunakan untuk terapi nyeri dan penambahan clonidin dapat mem perpanjang durasi.
  • Jika mukosa bukal digunakan, intubasi diperlukan untuk mengontrol ventilasi. Intubasi nasal dapat mempermudah kerja dari operator tetapi intubasi oral dengan menggunakan tube RAE yang diposisikan pada salah satu sudut mulut juga dapat digunakan. Diperlukan pack apabila terjadi perdarahan. Anestesi local ditambah adrenalin disuntikkan untuk mengurangi perdarahan dan analgesia postoperative.
  • Analgesik parasetamol dan diclofenac dapat juga ditambahkan sebagai obat analgesia.
  • Memerlukan antibiotik

Orchidopeksi
Operasi yang dilakukan apabila testis tidak turun. Operasi biasanya hanya akan menyayat kecil  daerah inguinal dan scrotal. Jika testis terletak di kanalis inguinalis dan akan diturunkan masuk ke dalam skrotum. Pertama kali dilakukan adalah insisi tranfersal daerah abdomen untuk mengetahui lokasi dari testis. Kedua, menurunkan testis ke dalam skrotum (fowler-stephens operation)
Anesthesia
  • Menggunakan LMA dan ventilasi spontan
  • Pada operasi unilateral dapat menggunakan blok anestesi local di daerah ilioinguinal. Jika bilateral makan menggunakan blok kaudal.
  • Untuk stage pertama fowler-stephens atau laparoskopi, membutuhkan intubasi tracheal dan ventilasi control.

Transplantasi renal
Transplantasi ginjal jumlahnya sangat banyak. Dengan penggunaan teknik dan imunosupresan yang benar makan angka survivalnya mencacpai 95%  pada anak usia 1 tahun dan 85% pada usia 5 tahun.
Manajemen anestesi
Preoperatif
  • Penilaian preoperative harus memperhatikan efek dari gagal ginjal
  • Pengawasan cairan, elektrolit dan status asam basa pada anak-anak
  • Pengawasan setiap daerah VP shunt dan menghindari pemasangan kateter IV atau arteri didekatnya.
  • Mengikuti prosedur transplanstasi yang sudah ada
Intraoperatif
  • Induksi dan maintenance harus selalu memperhatikan stabilitas kardiovaskuler.
  • Monitoring invasive dengan kanul arteri dan CVP masih dibutuhkan, tetapi hindari daerah yang potensial untuk pemasangan VP shunt.
  • Analgesia epidural secara umum dihindari karena penggunaan heparin berisiko menyebabkan coagulopati yang dihubungkan dengan CRF.
  • CVP dipertahankan pada 10-12 cmH2O untuk mengoptimalkan perfusi ginjal.
  • Tranfusi sel darah merah untuk meningkatkan HCT sampai 35-40%.
  • Sebelum pelepasan cross-clamp, protocol utamanya menggunakan furosemide 1 mg/kgBB dan mannitol 1 g/kg dan dopamine 5 mcg/kg/menit.
  • Pelepasan cross clamp biasanya akan menyebabkan hipotensi akibat pengisian ginjal. Perlu dipastikan pengisian cairan ke dalam tubuh sebelum klem dilepas , dapat diberukan darah atau cairan jika diperlukan
  • Masalah reperfusi biasanya terjadi pada anak-anak yang mendapatkan ginjal yang terlalu besar.
 Postoperatif
  • Ventilasi postoperative biasanya diperlukan jika ginjal yang cukup besar diberikan kepada anak-anak yang kecil atau jika manajemen cairan yang agresif menyebabkan oedem pulmoner.
  • Berhati-hati pada pemberian cairan
  • Analgesia postoperative dengan menggunakan morfin perinfus, PCA atau NCA juga diperlukan.
 
Diterjemahkan dari : 
Paediatric and Neonatal Anaesthesia: Anaesthesia in a Nutshell, Capter 15
 

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar