Sabtu, 18 Juni 2011

Resusitasi Pada Pediatri


Acuan resusitasi pada bayi dan anak telah dibuat oleh konsil resusitasi eropa. Acuan ini diambil dari informasi berbasis kejadian dari ILCOR (International Liason Comitee on Resucitation)

Etiologi
Penyebab henti jantung dan respirasi pada anak-anak bereda dengan dewasa. Dimana ventrikel fibrilasi atau disritmia jantung menjadi penyebab utama henti jantung pada orang dewasa, hal ini jarang pada anak-anak. Anak-anak rentan terhadap kegagalan respirasi yang nantinya akan menyebabkan terjadinya hipoksia atau bahkan asidosis, bradikardi dan henti jantung. (Lihat tabel 1). oleh karena itu anak-anak mempunyai periode jedah yang lebih lama apabila dilakukan terapi yang benar untuk henti jantung. Namun dengan lamanya periode tersebut maka anak tersebut akan mengalami kerusakan fisik yang berat, dan meskipun telah terselamatkan, kerusakan yang menetap sering terjadi, terutama kerusakan neurologis.

Penyebab henti jantung
Penyebab henti jantung pada pediatri berbeda antara neonates dan bayi/anak-anak yang berada di rumah sakit dan di lingkungan luar. Hasil akhir terapinya juga berbeda.

Penyebab utama henti jantung pada anak-anak
Respirasi
  • Aspirasi benda asing
  • Croup/epiglotitis
  • Kematian mendadak pada anak (sudden Infant Death Syndrome/SIDS)
  • Asma
Kecelakaan
  • Tenggelam
  • Kecelakaan lalulintas
  • Trauma kepala
  • Luka selain kecelakaan
  • Keracunan
Penyebab lain
  • Aritmia jantung, pada anak dengan kelainan jantung
  • Sepsis
  • Meningitis
  • Kejang
  • Gangguan elektrolit, penyakit metabolic

Trauma merupakan penyebab searuh kematian pada anak umur 1-14 tahun
·         50% RTA
·         25% terjatuh
·         15% luka bakar

Tabel 1. Tanda-tanda dan kumpulan gejala yang mengindikasikan henti jantung dan pernafasan pada pasien pediatric.



 

Faktor-faktor yang harus dipertimbangkan ketika merawat anak dengan keadaan sakit kritis antara lain:
·         Penentuan derajat kesadaran – catat GCS
·         Ketidakstabilan hemodinamik
·         Penentuan metabolism obat pada pasien syok
·         Pengosongan lambung yang tertunda


Hasil akhir
Secara umum angka keberhasilan hidup adalah 14% (angka keberhasilan hidup untuk henti jantung di luar rumah sakit 7% sedangkan angka keberhasilan hidup untuk henti jantung di dalam rumah sakit adalah 22%).
Keberhasilan tergantung pada penyebab henti jantung dan lokasi. (diluar rumah sakit, di rumah sakit, di dalam ICU). Kualitas hasil resusitasi juga beragam.

Penyebab henti jantung pada bayi < 1bulan
·         Kelainan congenital
·         SIDS
·         Trauma

Resusitasi pada bayi baru lahir
Penentuan nilai APGAR adalah penilaian awal yang digunakan pada persalinan. (Lihat tabel 2) APGAR dinilai pada menit 1,5 dan 10. APGAr yang rendah <6 dalam 1 menit menunjukkan terjadinya asfiksi dan kemungkinan adanya asidosis, kecuali pada bayi dengan berat lahir yang rendah, dimana nilai APGAR yang rendah tidak selalu disebabkan oleh asfiksi. APGAR <3 menunjukkan asfiksi berat. Bayi ini membutuhkan penanganan resusitasi yang aktif.


Tabel 2.  Penentuan nilai APGAR
Tanda
Nilai
0
1
2
Denyut Jantung
Tidak ada
< 100 x/ mnt
>100 x/mnt
Efek respirasi
Tidak ada
Pelan ireguler
Baik
Tonus otot
Lemah
Terkadang fleksi
Aktif
Reflek Iritabilitas
Tak berespon
Menyeringai
Batuk/bersin
Warna
Pucat/ kebiruan
Tubuh merah muda ektremitas biru
Merah muda

Manajemen meliputi:
  • Keringkan dan hangatkan bayi.
  • Bersihkan jalan nafas, beri oksigen.
  • Gunakan ambu bag, masker untuk membantu pernafasan.
  • Tekan dada jika denyut jantung < 60 x/menit. Tempat terbaik untuk menilai denyut jantung adalah pada arteri umbilicalis atau arteri aksilaris atau pulsasi jantung langsung pada dinding dada.
  • Manajemen lebih lanjut meliputi pemasangan akses intravena, pemberian adrenalin (epinefrin), volume (0,9% natrium klorida), glukosa, jika terjadi hipoglikemia, dan natrium bikarbonat untuk terapi asidosis.

Pediatric life support
Basic life support (BLS)
Teriak memanggil bantuan
Evaluasi ABC
Cek respon
AIRWAY
  • Head tilt/chin lift
  • Bersihkan segala benda-benda asing yang mengganggu
BREATHING
  • Mulai nafas dari mulut ke mulut jika tidak ada tanda-tanda respirasi dalam 10 detik (mulut ke hidung jika pada anak kecil).
  • Beri oksigen jika memungjinkan
SIRKULASI
  • Cek arteri karotis atau arteri brakialis
  • Mulai kompresi dada seawal mungkin jika denyut jantung <60 x/menit, atau bila ditemukan gejala perfusi yang menurun.

Gambar 1 dan 2 memperlihatkan algoritme BLS dan ALS pada pediatric

Peralatan yang dipergunakan pada resusitasi
  • Suction
  • Guedel dan sungkup muka dengan berbagai jenis dan ukuran
  • Self-inflating bag (AMBU bag) yang dibuat dengan tiga ukuran
-  Neonatal     240 ml
-  Anak          500 ml
-  Dewasa    1600 ml
Jika dibutuhkan, kantung yang lebih besar bisa digunakan pada pasien anak selama tetap diperhatikan gerakan dada pada setiap ventilasi untuk meyakinkan bahwa tidak terjadi ventilasi yang terlalu berlebihan.
  • Laringoskop.
  • LMA.
  • Pipa trakeal yang telah ditentukan (pada keadaan darurat pilih pipa trakeal dengan diameter luar sesuai jari kelima anak).
  • Bougie/stylet.
  • Kateter vena,cairan IV.
  • Jarum intraoseus.
  • Beberapa jarum suntik, kain pembersih, NGT
  • Monitoring : EKG, SPO2, NIBP, ETCO2, temperature
  • Set trakeostomi darurat.

Meskipun suhu dingin memberikan proteksi otak, namun pada bayi dan anak kecil terjadi kehilangan panas yang hebat,. Selimut hangat, pemanas diatas kepala, cairan iv yang hangat dan mempertahankan suhu yang hangat adalah hal yang penting.
Hipotermia ditoleransi lebih baik pada anak daripada dewasa. Kesembuhan secara menyeluruh setelah henti sirklasi telah dilaporkan pada lingkungan yang dingin.
Pita broselow yang membantu untuk memperkirakan dosis obat sesuai dengan berat badan.dan tinggi anak.

Algoritme resusitasi seperti: The European Rescutcitation Council, The Oakley Chart.
Gambar 1. Pediatric Basic Life Support (BLS)



Gambar 2. Pediatric ALS - CPR



Tabel 3. Selama resusitasi kardiopulmoner advance















Diterjemahkan dari : 
Paediatric and Neonatal Anaesthesia: Anaesthesia in a Nutshell, Chapter 18




Tidak ada komentar:

Poskan Komentar