Sabtu, 31 Desember 2011

Kunjungan Pra Anestesi


ANAMNESIS
Anamnesis dapat diperoleh dengan bertanya langsung pada pasien atau melalui keluarga pasien. Yang harus diperhatikan pada anamnesis  :
1.  Identifikasi pasien , misalnya : nama,umur, alamat, pekerjaan, dll.
2. Riwayat penyakit yang pernah atau sedang diderita yang mungkin dapat menjadi penyulit dalam anesthesia, antara lain :
  • Penyakit alergi.
  • Diabetes mellitus
  • Penyakit paru kronik : asma bronchial, pneumonia, bronchitis.
  • Penyakit jantung dan hipertensi (seperti  infark miokard, angina pectoris, dekompensasi kordis)
  • Penyakit susunan saraf (seperti stroke, kejang, parese, plegi, dll)
  • Penyakit hati.
  • Penyakit ginjal.
  • Penyakit ganguan perdarahan (riwayat perdarahan memanjang)
3.  Riwayat obat-obat yang sedang atau telah digunakan dan mungkin menimbulkan intereaksi  (potensiasi, sinergis, antagonis dll) dengan obat-obat anestetik. Misalnya, , obat anti hipertensi , obat-obat antidiabetik, antibiotik  golongan aminoglikosida ,obat penyakit jantung  (seperti digitalis, diuretika),  monoamino oxidase inhibitor, bronkodilator.  
Keputusan untuk  melanjutkan medikasi selama periode sebelum anestesi tergantung  dari beratnya penyakit dasarnya. Biasanya obat-obatan yang dipakai pasien tetap diteruskan tetapi mengalami perubahan dosis, diubah menjadi preparat dengan masa kerja lebih singkat atau dihentikan untuk sementara waktu.  Akan tetapi, secara umum dikatakan bahwa medikasi dapat dilanjutkan sampai waktu untuk dilakukan pembedahan.
4. Alergi dan reaksi obat. Reaksi alergi kadang-kadang salah diartikan oleh pasien dan kurangnya dokumentasi sehingga tidak didapatkan keterangan yang  memadai. Beratnya berkisar dari asimptomatik hingga reaksi anfilaktik yang mengancam kehidupan, akan tetapi seringkali alergi dilaporkan hanya karena intoleransi obat-obatan,  . Pada evaluasi pre operatif dicatat seluruh reaksi obat dengan penjelasan tentang kemungkinan terjadinya respon alergi yang serius., termasuk reaksi terhadap plester, sabun iodine dan lateks. Jika respon alergi terlihat, obat penyebab tidak diberikan lagi tanpa tes imunologik  atau diberi terapi awal dengan antihistamin,  atau kortikosteroid.
5.  Riwayat operasi dan anestesi yang pernah dialami diwaktu yang lalu , berapa kali  dan selang waktunya. Apakah pasien mengalami komplilkasi saat itu seperti kesulitan pulih sadar, perawatan intensif pasca bedah.
6. Riwayat keluarga. Riwayat anestesi yang merugikan atau membayakan pada keluarga yang lain sebaiknya juga dieveluasi. Wanita pada  usia produktif sebaiknya ditanyakan tentang kemungkinan mengandung. Pada kasus yang meragukan , pemeriksaan kehamilan preoperative merupakan suatu indikasi.
7.  Riwayat sosial yang mungkin dapat mempengaruhi jalannya anestesi seperti :
  • Perokok berat (diatas 20 batang perhari) dapat mempersulit induksi anestesi   karena merangasang batuk , sekresi jalan napas yang banyak, memicu atelektasis dan pneumenia pasca bedah. Rokok sebaiknya dihentikan minimal 24 jam sebelumnya untuk menghindari adanya CO dalam darah.
  • Pecandu alcohol umumnya resisten terhadap obat- obat anestesi khususnya golongan  barbiturat. Peminum alkohol dapat menderita sirosis hepatic.
  • Meminum obat-obat penenang atau narkotik.
8.  Makan minum terakhir (khusus untuk operasi emergensi)

PEMERIKSAAN FISIK
Perhatian khusus dilakukan untuk evaluasi jalan napas, jantung, paru-paru dan pemeriksaan neurologik  . Jika ingin melaksanakan teknik anestesi regional maka perlu dilakukan pemeriksaan extremitas dan punggung.
Pemeriksaan fisik sebaiknya terdiri dari :  
1   Keadaan  umum : gelisah, takut, kesakitan, malnutrisi, obesitas.
2   Tanda-tanda vital
  • Tinggi dan berat badan perlu untuk penentuan dosis obat terapeutik dan pengeluaran urine yang adekuat selama operasi .
  • Tekanan darah sebaiknya diukur dari kedua lengan dan tungkai (perbedaan bermakna mungkin memberikan gambaran mengenai penyakit aorta thoracic atau cabang-cabang besarnya).
  • Denyut nadi pada saat istirahat dicatat ritmenya, perfusinya (berisi) dan jumlah denyutnya.  Denyutan ini mungkin lambat pada pasien dengan pemberian beta blok dan cepat pada pasien dengan demam, regurgitasi aorta atau sepsis. Pasien yang cemas dan dehidrasi sering mempunyai denyut nadi yang cepat tetapi lemah.
  • Respirasi diobservasi mengenai  frekwensi pernapasannya , dalamnya dan pola pernapasannya selama istirahat.
  • Suhu tubuh (Febris/ hipotermi).
  • Visual Aanalog Scale (VAS). Skala untuk menilai tingkat nyeri
3    Kepala dan leher
  • Mata : anemis, ikteric, pupil (ukuran, isokor/anisokor, reflek cahaya)
  • Hidung : polip, septum deviasi, perdarahan
  • Gigi : gigi palsu, gigi goyang, gigi menonjol, lapisan tambahan pada gigi, kelainan ortodontik lainnya
  • Mulut : Lidah pendek/besar, TMJ (buka mulut … jari), Pergerakan (baik/kurang baik), sikatrik, fraktur, trismus, dagu kecil
  • Tonsil : ukuran (T1-T3), hiperemis, perdarahan
  • Leher : ukuran (panjang/pendek), sikatrik, masa tumor, pergerakan leher (mobilitas sendi servical) pada fleksi ektensi dan ritasi, TMD, trakea (deviasi), karotik bruit, kelenjar getah bening.
  • Dalam prediksi kesulitan intubasi sering di pakai 8T yaitu : Teet, Tongue, Temporo mandibula joint, Tonsil, Torticolis, Tiroid notch/TMD, Tumor, Trakea.
4.   Thoraks
a.  Prekordium.  Auskultasi jantung mungkin ditemukan murmurs (bising katup), irama gallop atau perikardial rub.
b.   Paru-paru.
  • Inspeksi : Bentuk dada (Barrel chest, pigeon chest, pectus excavatum, kifosis, skoliosis) Frekwensi (bradipnue/takipnue) Sifat pernafasan ( torakal, torako abdominal/abdominal torako), irama pernafasan (reguler/ireguler, cheyne stokes, biot), Sputum (purulen, pink frothy), Kelainan lain (stridor, hoarseness/serak, sindroma pancoas)  
  • Palpasi : Premitus (normal, mengeras, melemah)
  • Auskulatasi : Bunyi nafas pokok ( vesikuler, bronchial, bronkovesikuler, amporik), bunyi nafas tambahan  (ronchi kering/ wheezing, ronchi basah/rales, bunyi gesekan pleura, hippocrates succussion)
  • Perkusi : sonor, hipersonor, pekak, redup 
5.  Abdomen.
Pristaltik (kesan normal/meningkat/meenurun), Hati dan limpa (teraba/tidak, batas, ukuran, per-mukaan), distensi, massa atau asites  (dapat menjadi predisposisi untuk regurgitasi).

6.  Urogenitalia.
Kateter (terpasang/tidak), urin [volume : cukup (0,5-1 cc/jam), anuria (< 20 cc/24 jam), oliguria (25 cc/jam atau 400 cc/24jam), Poliuria (> 2500 cc/24 jam)], kwalitas (BJ, sedimen), tanda tanda sumbatan saluran kemih (seperti kolik renal).

7.  Muskulo Skletal - Extremitas. Edema tungkai, fraktur, gangguan neurologik /kelemahan otot (parese, paralisis, neuropati perifer, distropi otot),  perfusi ke distal (perabaan hangat/dingin, cafilay refil time, keringat) , Clubbing fingger, sianosis, anemia, dan deformitas, infeksi kutaneus  (terutama rencana canulasi vaskuler atau blok saraf regional)

PEMERIKSAAN LABORATORIUM DAN UJI LAIN
Pemeriksaanlaboratorium  ada 2 yaitu pemeriksaan rutin dan khusus
1.     Pemeriksaan laboratorium rutin : 
  • Darah : Hb, lekosit, hitung jenis lekosit, golongan darah, masa pembekuan, masa perdarahan.
  • Foto toraks : terutama untuk bedah mayor, pasien diatas 60 thn, atau sesuai klinis.
  • EKG : terutama untuk pasien berumur diatas 40 tahun atau sesuai klinis.
2.     Pemeriksaan khusus, dilakukan bila ada riwayat atau indikasi, misalnya :
  • EKG pada anak.
  • Spirometri dan bronkospirometri pada pasien tumor paru.
  • Fungsi hati pada pasien ikterus.
  • Fungsi ginjal pada pasien hipertensi.
  • Analisa gas darah, elektrolit pada pasien ileus obstruksi atau bedah mayor.
  • Untuk pemeriksaan khusus yang lebih mendalam, misalnya ekokardiografi atau kateterisasi jantung  diperlukan konsulatasi dengan ahli-ahli bidang lain sehingga persiapan dan penilaian pasien dapat dilakukan lebih baik.
 Tabel berikut ini merupakan suatu petunjuk untuk menggunakan penilaian klinis dalam membuat permintaan pemeriksaan laboratorium.

Kondisi   preoperative

Hb
    
Lekosit
PT / APTT
PLT / BT
Elektrolit
BUN / Creat
Gula  darah
SGOT/ Al.Ph
X-ray
EKG
Preg
T/S
P
W
Operasi dengan perdarahan
X
X










X
Operasi tanpa perdarahan













Neonatus
X
X











U m u r  <  4 0

X











U m u r   40 – 49

X








M


U m u r   50 64

X








X


U m u r      >  65
X
X




X
X

+
X


Peny. Kardiovaskular






X


X
X


Penyakit  Paru









X
X


K e g a n a s a n       
X
X
*
*





X



Terapi  radiasi


X






X
X


Penyakit  hati



X




X




Terpapar hepatitis








X




Penyakit  gInjal
X
X



X
X






Gangguan  Perdarahan



X
X








Diabetes





X
X
X


X


Merokok
X
X







X



Kehamilan 











X

Pemakaian diuretik





X
X






Pemakaian digoksin





X
X



X


Pemakaian steroid





X

X





Pemak. antikoagulan
X
X

X









Penyakit  S S P


X


X
X
X


X


Tidak semua penyakit termasuk dalam table ini.  Simbol :  + mungkin dilakukan; * hanya untuk leukemia;  X dilakukan;  M dilakukan hanya  untuk pria.

PERENCANAAN ANESTESI.
Rencana  anestesi diperlukan untuk menyampaikan strategi penanganan anestesi secara umum. Secara garis besar komponen dari rencana anestesi adalah :  
  1. Ringkasan tentang anamnesis pasien , dan dan hasil-hasil pemeriksaan fisik sehubungan dengan penatalaksanaan anastesi, buat dalam daftar masalah, satukan bersamaan dengan beberapa daftar masalah yang digunakan oleh  dokter yang merawat.
  2. Perencanaan teknik anestesi yang akan digunakan termasuk tehnik-tehnik khusus  (seperti intubasi fiberoptik, monitoring invasif ).
  3. Perencanaan penanganan nyeri post operasi bila perlu.
  4. Tindakan post operatif khusus jika terdapat indikasi (misalnya perawatan di ICU).
  5. Jika ada indikasi buat permintaan evaluasi medik lebih lanjut.
  6. Pernyataan tentang resiko-resiko yang ada , informed consent, dan pernyataan bahwa semua pertanyaan telah dijawab.
  7. Klasifikasi status fisik dan penilaian singkat.

MENENTUKAN PROGNOSIS
Pada kesimpulan evaluasi pre anestesi setiap pasien ditentukan kalsifikasi status fisik menurut American Society of Anestesiologist (ASA). Hal ini merupakan ukuran umum keadaan pasien. Klasifikasi status fisik menurut ASA adalah sebagai berikut :
  • ASA 1 : Pasien tidak memiliki kelainan organik maupun sistemik selain penyakit yang akan dioperasi.
  • ASA 2 : Pasien yang memiliki kelainan sistemik ringan sampai dengan sedang selain penyakit yang akan dioperasi. Misalnya diabetes mellitus yang terkontrol atau hipertensi ringan
  • ASA 3 : Pasien memiliki kelainan sistemik berat selain penyakit yang akan dioperasi, tetapi belum mengancam jiwa. Misalnya diabetes mellitus yang tak terkontrol, asma bronkial, hipertensi tak terkontrol
  • ASA 4 :  Pasien memiliki kelainan sistemik berat yang mengancam jiwa selain penyakit yang akan dioperasi. Misalnya asma bronkial yang berat, koma diabetikum
  • ASA 5 : Pasien dalam kondisi yang sangat jelek dimana tindakan anestesi mungkin saja dapat menyelamatkan tapi risiko kematian tetap jauh lebih besar. Misalnya operasi pada pasien koma berat
  • ASA 6 : Pasien yang telah dinyatakan telah mati otaknya yang mana organnya akan diangkat untuk kemudian diberikan sebagai organ donor bagi yang membutuhkan.

Untuk operasi darurat, di belakang angka diberi huruf E (emergency) atau D (darurat), mis: operasi apendiks diberi kode ASA 1 E

Tambahan ..................... 
Pemeriksaan Tingkat Kesadaran
Tingkat kesadaran dinilai dengan Glasgow Coma Scale (GCS). Penilaian ini  harus dilakukan secara periodik untuk menulai apakah keadaan penderita semakin membaik atau memburuk. 
GCS terendah jumlahnya adalah 3 (koma dalam atau mati), sementara yang tertinggi adalah 15 (sadar penuh). Dari ketiga komponen GCS tersebut motorik merupakan komponen yang paling objektif. Dan sebaiknnya penilaian untuk satu penderita senantiasa dilakukan oleh orang yang sama. Untuk penderita dengan hematoma periorbita yang besar, penilaian komponen mata harus disesuaikan dengan respon motorik. Demikian pula untuk penderita yang afasia, atau terintubasi, konponen verbalnya harus disesuaikan dengan respon motorik. Dan untuk itu perlu latihan dan pengalaman yang berulang-ulang.
Sebagaimana disebutkan oleh Plum dan Postner,  tingkat kesadaran tidak akan terganggu jika cedera hanya terbatas pada satu hemisper saja, tetapi menjadi progresif memburuk jika kedua hemisfer mulai terlibat,  atau jika ada proses patologis akibat penekanan atau cedera pada batang otak.

Penilaian GCS berdasarkan reaksi yang didapatkan sesuai dengan umur penderita.
Mata
≥ 1 tahun
0 – 1 tahun
4
Membuka mata spontan
Membuka mata spontan
3
Membuka mata oleh perintah
Membuka mata oleh teriakan
2
Membuka mata oleh nyeri
Membuka mata oleh nyeri
1
Tidak membuka mata
Tidak membuka mata
Motorik
≥ 1 tahun
0 – 1 tahun
6
Mengikuti perintah
Belum dapat dinilai
5
Melokalisasi nyeri
Melokalisasi nyeri
4
Menghindari nyeri
Menghindari nyeri
3
Fleksi Abnormal (dekortikasi)
Fleksi Abnormal (dekortikasi)
2
Ektensi abnormal (deserebrasi)
Ektensi abnormal (deserebrasi)
1
Tidak ada respon
Tidak ada respon
Verval
>5 tahun
2-5 tahun
0-2 tahun
5
Orientasi baik dan mampu ber-komunikasi
Menyebutkan kata yang sesuai
Menagis kuat
4
Disorientasi tapi mampu ber-komunikasi
Menyebutkan kata yang   tidak sesuai
Menagis lemah
3
Menyebutkan kata-kata yang tidak sesuai
Menagis dan menjerit
Kadang menagis / menjerit lemah
2
Mengeluarkan suara
Mengeluarkan suara lemah
Mengeluarkan suara lemah
1
Tidak ada respon
Tidak ada respon
Tidak ada respon


Tidak ada komentar:

Poskan Komentar